19/07/11

is the best way ever?

keterlaluan,
mungkin seperti itulah kata yang cukup pendek tapi belum juga pas untuk meneriaki ini

aku merasakan hal yang memang sebenarnya ini kali pertama aku tahu
tanpa berpikir panjang tentang apa yang akan membuat aku semakin hancur,
and that happened

ada raut kegembiraan yang terlihat dari air muka kawanku satu ini,
sepertinya dia senang dengan musibah yang aku dapat,
tapi bukan kesenangan karena aku yang menderita,tapi orang "itu" yang hancur karena perilakunya sendiri.
aku keliru manganggap dia sebagai orang yang baik, dia sama halnya dengan orang yang "maaf" tunasusila, 
apa yang ada dalam pikirannya? apa dia tak berpikir kalau itu akan menghancurkan dirinya sendiri, terlebih aku?
apa yang sebenarnya mengisi otaknya? kelewat memikirkan apa yang salah, pnatas disalahkan, dan pantas saya BUNUH!?

ini keadaan yang membuar saya drop, hilang,tanpa molekul primer atau,
seperti banteng yang ada dalam arena rodeo selama 2 jam dan telah mendapat 12 tombak menancap dipunuknya
seperti orang yang tak lagi punya tenaga dan motivasi untuk hidup, bahkan bersedia mengoyah perutnya karena kepalanya sudah kosong
KURANG AJAR
sesekali terbersit itu dalam mulutku
sebenarnya siapa yang tidak beres?
aku? atau......


apakah sebuah Chicken Soup bisa saya tawari cerita keruntuhan kerajaan hidup orang ini?
apakah ini ujian Tuhan yang mengaitkan banyak hambanya dalm satu kerusakan
aku berbicara pada Tuhan
"Tuhan, apakah ini jalan yang kau kehendaki dari doaku untuk memberikan kami, dia, mereka, pilihana yang baik dam bimbinganmu untuk mendapatkan yang terbaik?"
Tuhan tahu apa yang aku raung-raungkan dalam kalimatku yang aku tujukan untuk mengadu kepada Tuhan
sebelum aku berpura-pura untuk merela
aku selalu memanjatkan permohonanku kepada Tuhanku
"Tuhan, tolong selamatkan dia, mereka, dan saya dari jalan yang keliru, 
dan juga berikan jalan terbaik-Mu"

apakah keburukan itu jalan yang akakn membuat "semuanya" kembali baik?
aku tak tahu dan hanya ada satu yang membuat semua molekul dan sel tahu.

15/07/11

Kompor Gas Berbahan Bakar "Cangkang"..... Wow!

M Nurhuda, Dosen Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, yang berhasil menciptakan kompor berbahan cangkang. Selasa (14/6/2011).

Elpiji yang terus merangkak naik membuat dosen Universitas Brawijaya berhasil menemukan energi alternatif baru untuk kompor masak.

Seperti yang dilansir kompas,Nurhuda berhasil menciptakan kompor Biomass UB 03-1 dengan bahan bakar yang ia istilahkan "cangkang", yaitu kulit atau batok kelapa sawit. Kompor tersebut bersistem semi-gasifikasi dengan konsep pre-heating, counter flow, air flow regulation, dan diffused combustion (baur). 

Kompor tersebut tidak memerlukan listrik sama sekali. Semua aliran udara berjalan secara alami. Api menyala dengan sempurna, dan jika digunakan untuk memasak hasilnya terlihat memuaskan.

Saat ditemui di kampus Universitas Brawijaya, Selasa (14/6/2011), Nurhuda menyampaikan kepadaKompas.com bahwa isi tabung untuk kompor "cangkang" ini maksimum 1 kilogram. "Adapun laju pembakaran sebesar 10 gram per menit. Kalau sudah diisi, maka kompor akan mampu menyala selama 100 menit secara terus-menerus. Bisa juga jika hanya menggunakan separuh isi tabung, tergantung kebutuhan dan lamanya api yang diharapkan untuk memasak," katanya.

Secara teknis, kompor ini dapat langsung dimatikan meski bahan bakar di dalam kompor masih banyak. "Dibandingkan dengan elpiji dan minyak tanah, ini jauh lebih irit. Beli elpiji Rp 4.200 per kg dengan konten energi 46,6 per kg, sementara kebutuhan per bulan 12 kg. Jika demikian, belanja per bulan yang harus dikeluarkan adalah Rp 50.400," katanya.

Berbeda dengan kompor biomass dari bahan "cangkang". Nurhuda mengungkapkan bahwa bahan bakar dan harga per unitnya senilai Rp 300 per kg. Ini harga "cangkang" di Sumatera dan di Kalimantan. Di Jawa, kalau ada, harga "cangkang" senilai Rp 1.000 per kg. "Adapun konten energi 20 per kg dengan kebutuhan per bulan sebanyak 36 per kg. Jika demikian, maka uang yang harus dikeluarkan selama sebulan adalah Rp 10.800. Itu untuk di Sumatera dan Kalimantan. Kalau di Jawa hanya butuh Rp 36.000," bebernya.

Lebih lanjut, Nurhuda mengatakan bahwa produksi kelapa sawit di Indonesia pada 2010 diperkirakan sekitar 100 juta ton. Dari jumlah tersebut dihasilkan CPO sebesar 24 persen. Cangkang sawit sebagai limbah berjumlah sekitar 5 persen dari TBS atau 5 juta ton per tahun.

"Jika digunakan untuk bahan bakar kompor Biomass UB-03-1 berbahan bakar 'cangkang' dengan kebutuhan rata-rata harian sebesar 1 kg per keluarga, maka jumlah tersebut mencukupi kebutuhan 13 juta keluarga di Indonesia," katanya.

Karena cangkang tersedia di Sumatera dan Kalimantan, penduduk dua wilayah tersebut dapat mencukupi kebutuhan energi mereka.

"Bila limbah-limbah lain, misalkan sabut kelapa sawit atau blotong-nya digunakan sebagai pelet, maka akan banyak lagi keluarga yang dapat mencukupi kebutuhannya dari limbah kelapa sawit. Ada juga bahan bakar alternatif selain 'cangkang', yakni jerami padi, tebon jagung, kaul padi, blotong tebu, danblotong aren," ungkapnya.
Bahan alternatif tersebut juga dapat menghasilkan nyala api biru, asalkan dibentuk dalam bentuk pelet, yaitu briket dalam ukuran yang lebih kecil. "Dengan karya saya ini, kami hanya mengimbau, biomassjangan diekspor ke luar negeri karena unsur hara tanah dan berbagai mineral akan berpindah ke negeri orang," katanya.

Jika ekspor biomass di Indonesia diteruskan, maka Indonesia akan kering dan tandus karena tanah akan kehilangan unsur haranya. "Semoga Indonesia tak selalu membuang kekayaannya. Semoga Indonesia tak membuat rakyatnya miskin di negeri yang kaya," harapnya.

Pulau Berlangit Gelap Pertama di Dunia

Yunanto Wiji Utomo | Tri Wahono
KOMPAS.com - Sark, sebuah pulau yang berjarak 80 km di selatan pantai Inggris meraih gelar sebagai pulau berlangit gelap pertama di dunia. Pulau tersebut merupakan pulau terkecil di antara 4 anggota Kepulauan Channel.
Kenapa dinamakan demikian? Gelar pulau berlangit gelap pertama itu diberikan oleh International Dark Sky Association (IDA), sebuah organisasi Amerika Serikat yang memiliki misi melestarikan kegelapan dan keindahan langit malam.
IDA memberikan gelar tersebut setelah selama setahun bekerja keras dengan 600 warga pulau untuk mengurangi polusi cahaya. Mereka bekerja sama memastikan sesedikit mungkin cahaya yang "tumpah" ke angkasa, menyebabkan kaburnya cahaya bintang.
Dengan langit gelap yang dimiliki, maka Sark adalah surga bagi para astronom, amatir maupun profesional. Bintang, bulan, meteor, planet, benda angkasa lain beserta fenomenanya bisa dilihat dengan sangat jelas.
"Anda bisa melihat pemandangan spektakuler di Inggris, tapi sangat sedikit tempat yang bisa memberikan pemandangan kegelapan tingkat dunia," kata Steve Owens, astronom yang bekerja sama dengan warga untuk mewujudkan langit gelap Sark.
"Jika anda berada di tempat seperti Sark, Bimasakti adalah pemandangan rutin tiap malam. Itu membuat saya merasa kagum. Setiap titik-titik di angkasa adalah 'matahari' dan terdapat 100 juta jumlahnya," tandas Owens.
Ia mengatakan, "Itu (pemandangan langit malam) membuat saya merasa betapa spesialnya Bumi. Kita tidak pernah menemukan tempat lain di dalam kosmos yang begitu sempurnanya untuk mendukung hidup."
Untuk mewujudkan langit gelap, Owens dan warga musti mengukur tingkat ilmuniasi cahaya serta kejelasan konstelasi bintang. Owens mendatangi setiap lokasi di Sark dan membuat rekomendasi untuk mengurangi iluminasi cahaya.
Dengan modal langit gelapnya dan gelarnya, ekonomi Sark berpotensi untuk dikembangkan. Wisatawan bisa dipacu untuk tinggal hingga musim dingin sehingga bisa menikmati keindahan langit malam Sark.
Paul Williams, ketua komite pertanian Sark mengatakan, "Astronomi sedang naik daun. Banyak orang penasaran tentang planet, bintang dan kehidupan di luar sana. Siapa tahu sesuatu bisa ditemukan dari Sark," kata Williams.


Kilobot, Batalyon Robot Buatan Harvard

Yunanto Wiji Utomo | Tri Wahono
 
KOMPAS.com — Kilobot, sebuah robot yang dikembangkan di Self Organizing Systems Research Group, Harvard University, punya keunikan. Jika sebagian besar robot dirancang untuk bekerja individual, maka Kilobot dirancang untuk bekerja dalam kelompok layaknya batalyon prajurit robot.
Kilobot bisa diprogram untuk melakukan tugas tertentu bersama kilobot-kilobot lainnya dalam waktu kurang dari 40 detik dan dikontrol melalui pengendali inframerah. Sekali tugas selesai dirancang, maka satu Kilobot bisa langsung berkomunikasi dengan Kilobot lainnya.
Robot ini terbuat dari bahan yang sangat murah. Biaya pengembangan satu unit Kilobot terhitung sangat murah, cuma 14 dollar AS. Waktu yang dibutuhkan untuk membuat satu robot juga hanya 5 menit sehingga menjadikan Kilobot unik dibandingkan robot secanggih apa pun.
Harvard saat ini sanggup menjalankan satu misi dengan batalyon beranggotakan 25 Kilobot. Ditargetkan, nantinya misi bisa dijalankan dengan batalyon yang beranggotakan 1.024 Kilobot. Kalau target ini bisa tercapai, pasti banyak pekerjaan keren yang bisa dilakukan.

Jam Raksasa Dirancang Awet 10.000 Tahun

Yunanto Wiji Utomo | Tri Wahono
KOMPAS.com — Tahun 1989, inventor berkebangsaan Amerika Serikat (AS), Danny Hills, memiliki ide untuk membuat jam yang mampu bertahan selama 10.000 tahun. Tahun 1995, ia memublikasikan idenya dalam sebuah artikel di Wired.
Sekian lama, ide itu terpendam, tak terealisasikan. Hingga akhirnya Jeff Bezos, pendiri Amazon, berminat mewujudkan ide itu menjadi kenyataan. Ia menanam investasi sebesar 42 juta dollar AS. Kini, dengan Staurt Kendall sebagai salah satu yang berperan dalam konstruksi, jam itu tengah dibangun dan nantinya akan berada di pegunungan wilayah Sierra Diablos, Texas.
Bezos mengatakan bahwa jam ini akan menjadi ikon pemikiran jangka panjang dan mengajak orang untuk berpikir tentang masa depan. "Peradaban akan jatuh bangun. Sistem pemerintahan baru akan muncul," katanya. Lebih lanjut, ia mengatakan, "Anda tak bisa membayangkan masa depan. Kita mencoba untuk membuat jam ini melaluinya."
Perusahaan Kendall, Seattle Solstice, yang menjadi bagian dari proyek ini mengatakan, sangat kagum dengan ide yang dimiliki Hills. Menurut dia, pembuatan jam yang bisa bertahan selama 10.000 tahun ini memiliki visi yang sama dengan piramida Mesir Kuno.
Jam nantinya akan memiliki ketinggian 200 kaki atau sekitar 60 meter dan akan berada di bawah tanah sedalam 500 kaki atau 150 meter. Tahun ini, ekskavasi dimulai di wilayah tempat jam ini nantinya akan diletakkan di bawah tanah. Lubang sedalam 500 kaki telah digali. Sementara, pembuatan nantinya juga akan dibantu oleh platform robot seberat 2,5 ton.
Di tempat jam ini diletakkan, akan dibuat 5 ruangan yang digunakan untuk peringatan 1 tahun, 10 tahun, 100 tahun, 1.000 tahun, dan 10.000 tahun. Hanya bagian 1 tahun dan 10 tahun yang akan dibangun saat ini, sementara bagian yang dibiarkan dibangun oleh generasi mendatang.
Jam ini akan berdetak setiap satu tahun, memiliki jarum abad yang akan bergerak maju setiap 100 tahun dan 'ayam' yang akan muncul setiap satu milenium. Di saat-saat tertentu, jam akan memainkan sebuah melodi yang didesain takkan diulang dalam kurun waktu 10.000 tahun.
Jam mampu menggunakan energi yang didapatkan dari perbedaan panas siang dan malam. Jadi, selama matahari tetap terbit dan terbenam, jam ini bisa bekerja. Namun, akan lebih baik dan akurat jika ada pengunjung yang datang dan memutar roda yang ada di jam untuk menyesuaikan waktu.

Ternyata Kera juga Suka Narsis

Yunanto Wiji Utomo | Tri Wahono 
KOMPAS.com — Ternyata, bukan cuma manusia yang narsis suka memotret dirinya. Kera pun demikian. Setidaknya, inilah perilaku kera yang ditemui fotografer David Slater yang beberapa waktu lalu berkunjung ke taman nasional wilayah Sulawesi Utara, Indonesia.
Perilaku itu dijumpai Slater ketika ia selesai mengambil gambar. Slater meninggalkan perangkatnya sejenak untuk sebuah urusan dan ketika kembali, ia menjumpai kera-kera yang ada di taman nasional itu bermain dengan kamera dan memotret dirinya sendiri.
"Mereka nakal, melompat dan bermain dengan peralatan. Seekor kera memencet tombol. Suara ketika kamera mengambil gambar menarik perhatian dan kera itu pun terus memencetnya. Pada awalnya mereka takut, tetapi akhirnya kembali. Sangat menyenangkan bisa melihatnya," kata Slater.
Menurut Slater, kera-kera tersebut dipastikan telah mengambil ratusan foto diri. Sebuah foto menampakkan kera memamerkan gigi depannya yang besar dan mata berwarna coklat. Koleksi foto-foto monyet tersebut bisa dilihat di YouTube.
Slater menghabiskan waktu 3 hari berturut-turut dengan kera tersebut. Ia mengatakan bahwa kera di taman nasional itu sangat bersahabat. "Meskipun mungkin belum pernah kontak dengan manusia sebelumnya, mereka tidak tampak terancam dengan kehadiran kami," ucap Slater.
Spesies kera yang dijumpai Slater adalah kera hitam (Macaca nigra). Spesies tersebut hidup di wilayah Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya. Status kera tersebut kini hampir punah dan masuk Daftar Merah International Union for Conservation of Nature.

Kadal Ternyata Cerdas Juga

Tri Wahono

KOMPAS.com — Peneliti dari Duke University, AS, menemukan fakta bahwa kadal tropis Anolis evermanni memiliki kemampuan memecahkan masalah. Kadal berwarna hijau ini memiliki kecerdasan tinggi.
Berdasarkan percobaan yang dilakukan Prof Manual Lead dari Duke University, kadal ini mampu membalikkan semacam piringan. Di balik piringan tersembunyi cacing, makanan kesukaan kadal.
Salah satu caranya dengan menabrak piringan itu hingga terbalik. "Saya terkejut dengan metode ini," kata Lead, Rabu (13/7/2011), kepada BBC. (BBC/JON)

11 Tahun Jelajahi Dunia dengan Mobil Kuno

SUBANG JAYA, KOMPAS.com — Awalnya pasangan Herman (43) dan Candelaria Zapp (41) hanya ingin melakukan perjalanan dari Buenos Aires, Argentina, ke Alaska, Amerika Serikat. Menjadi turis backpacker, mereka menggunakan mobil Graham-Paige buatan 1928 yang sudah dimodifikasi.
Nahuel Pampa, si sulung, lahir sembilan tahun lalu di AS. Putra kedua mereka, Lucas Tehue 6, lahir di Argentina. Disusul Paloma Huya 3 yang lahir di Kanada. Sementara si bungsu Marco Wallaby "bertanah air" di Australia.
Ternyata sejak berangkat dari Buenos Aires pada 2001 itu, hingga kini mereka belum kembali ke Tanah Air karena tujuan perjalanan mereka terus bertambah.
Setelah dari Alaska, pasangan Zapp melanjutkan perjalanan, tidak berhenti di Benua Amerika saja. Mereka kini sudah menginjak Asia. Mereka berkunjung ke Korea Selatan, Jepang, Filipina, Malaysia, Singapura, Brunei, dan Indonesia.
Selama 11 tahun bertualang dengan mobil yang bisa "berubah" menjadi tenda itu, pasangan Zapp sudah memiliki empat anak yang lahir di empat negara berbeda.
Nahuel Pampa, si sulung, lahir sembilan tahun lalu di AS. Putra kedua mereka, Lucas Tehue (6), lahir di Argentina. Disusul Paloma Huya (3) yang lahir di Kanada. Sementeaa si bungsu Marco Wallaby "bertanah air" di Australia.
"Meskipun lahir di beberapa negara berbeda, mereka tetap anak-anak Argentina," kata Herman, di Subang Jaya, Malaysia.
Keluarga Zapp ogah disebut turis bila berada di negara asing.
"Kami hanya musafir biasa," ucapnya ketika berada di Subang Jaya.
Yang pertama menarik perhatian warga di setiap tempat yang dikunjungi adalah mobil kuno mereka.
"Orang selalu menanyakan bagaimana mobil kuno itu bisa berkeliling dunia tanpa mogok. Tentu saja ada kalanya mobil ini ngadat," kata Herman ketika berada di acara kumpul-kumpul penggemar mobil kuno yang diadakan Malaysia and Singapore Vintage Cars Register di Subang Jaya, Rabu (13/7/2011).
"Bila kami mendapat kesulitan di jalan, ada saja yang mau menolong di saat yang tepat. Atau kami bertemu orang yang tepat," imbuhnya.
Menurut Candelaria, anak-anaknya belajar tentang dunia secara langsung. Meskipun demikian, dia tidak mengabaikan pendidikan formal. Anak-anaknya mendapat pendidikan secara home schoolingbegitu berusia enam tahun.
"Kami sudah pernah mengalami berbagai kesulitan. Kehidupan nyata memang tidak pernah nyaman, tetapi begitulah kehidupan kita, menghadapi tantangan," ujarnya.
Dari Malaysia mereka akan melanjutkan perjalanan ke Thailand dan banyak tempat lain sebelum pulang.
Pengalaman mereka sudah dibukukan dalam Spark Your Dream dan  situs webwww.sparkyourdream.com.

05/07/11

Da`i Sejuta Umat Meninggal Dunia

INDONESIAN NEWS - Zainuddin MZ, yang wafat di usia 59 tahun sebelumnya sempat dilarikan ke Rumah Sakit Pertamina, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan akibat serangan jantung. Namun, dalam perjalanan ke rumah sakit nyawa Zainuddin tak sempat terselamatkan.

Da`i kondang yang disebut dengan julukan "Da`i Sejuta Umat" itu telah berpulang ke rahmatullah pada pukul 9 hari ini (05/07/11). KH Zainuddin MZ sebelum meninggal, sempat pingsan di rumah kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Namun, nyawanya tidak tertolong sebelum ditangani dokter. 

"Abis ceramah di Sumatera pulang jam 2 dinihari. Terus abis sarapan pingsan jam 09.00 WIB, dibawa ke RS Pertamina, RSPP menyatakan meninggal sekitar pukul 9.20 WIB. Capek, sakit, diduga meninggal karena serangan jantung," ujarnya di rumah duka Jalan Haji Aom, Gandaria, Jakarta Selatan, Selasa (5/7).

KH Zainuddin dimakamkan pada pukul 15.00 WIB di kawasan masjid yang tak jauh dari kediamannya, tampak pula kehadiran beberapa sahabat beliau, seperti Rhoma Irama, Anggota DPD AM Fatwa, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, mantan Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama Hasyim Muzadi, mantan Dewan Pertimbangan Presiden Jimly Assidiqi, serta Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.